Description:Pada tahun 90-an, dokter-dokter yang telah menyelesaikan studinya, umumnya melanjutkan tugas sebagai dokter PTT (Pegawai Tidak Tetap) di puskesmas-puskesmas, sebagai sebuah tugas pengabdian yang dibebankan oleh pemerintah. Tulisan saya berikut ini hanyalah salah satu catatan pengalaman diantara berbagai pengalaman rekan-rekan sejawat saya lainnya dan diselingi opini sederhana yang saya rekam selama menjalankan tugas PTT di sebuah kawasan sangat terpencil di kecamatan Sandaran, kabupaten Kutai Timur propinsi Kalimantan Timur. Sepenuhnya catatan ini, dituliskan saat berada di lokasi, di sela-sela waktu luang. Saya menuliskannya mengalir saja, tanpa kewajiban mengemasnya seperti suatu bahasan ilmiah dan ketika itu juga tanpa banyak literatur yang bisa saya jadikan rujukan konfirmasi untuk pengayaan materi buku ini. Sehingga buku ini memang bukan buku berkelas ilmiah dan juga sama sekali tidak dimaksudkan sebagai sumber rujukan tentang profil daerah sangat terpencil khususnya bagi sejawat dokter. Karena bagaimanapun setiap tempat di negeri ini punya keunikan tersendiri, baik alam maupun kehidupan masyarakatnya. Negeri kita, negeri archipelago, yang terdiri lebih dari 300 suku dan 17.000 kepulauan yang tentunya hadir dengan persepsi dan adat istiadat yang khas atas problematika penyakit dan masalah kesehatan pada tiap-tiap masyarakatnya.Sebutlah, buku ini sekedar ilustrasi sederhana kondisi lapangan atau lebih tepat lagi sebuah sharing pengalaman kepada siapa saja, terkhusus kepada sejawat profesi dan “adik-adik” mahasiswa Fakultas Kedokteran. Karena sesungguhnya kita punya banyak pengalaman sehari-hari yang istimewa dan menjadi “bernilai lebih” apabila semua itu didokumentasikan. Karena saya percaya setiap orang begitu berharga. Dan bukankah pengalaman adalah guru yang paling baik? Saya bertekad dan juga nekad untuk menuliskan pengalaman-pengalaman sederhana saya ini, karena saya kebetulan berposisi menjadi dokter perintis di sebuah kecamatan baru pelosok sangat terpencil, yang memulai kondisi bekerja dari keadaan yang sangat minim dan pranata sosial yang amat bersahaja. Puskesmas (dalam arti gedung & perangkat yang sebenarnya) di wilayah kerja selama saya bertugas ‘baru akan dan sedang dibangun’, staf pembantu puskesmas yang terdiri dari perawat-bidan-analis dsb juga belumlah ada dan saat itu kemajuan kecamatan adalah hal yang sangat diharapkan sedang dan tengah berjalan, dan… jadilah buku ini secara kebetulan menjadi sepenggal potret dari kisah masa lalu saya di tanah Borneo ini. Namun sebelumnya saya ingin tegaskan ini bukankisah saya, melainkan kisah hidup banyak pasien, kisah tentang warga-warga desa yang bermukim di dusun-dusun sunyi.Isi buku ini juga tidak murni masalah medis, saya menuliskan banyak pengamatan iseng-iseng ini juga dengan memposisikan diri sebagai orang biasa yang kebetulan saja menjadi dokter. Dan isinya juga memang bukan melulu membahas medis. Menurut saya, dokter memang sebuah profesi yang “unik”. Dalam keseharian masyarakat selalu memanggilnya pak Dokter ! Bukan berfokus pada siapanya, tentulah pemanggilan tersebut hanya ungkapan takzim penghormatan, mereka menghormati nilai-nilai dan idealisme yang menjiwai profesi ini. Salah satu keberuntungan dokter adalah pekerjaannya mulia. Ya, setiap profesi itu tentu mulia, namun bagi dokter untuk meraih kemuliaan itu relatif lebih mudah dibandingkan “mungkin” dengan profesi semacam birokrat atau pejabat (seperti sekarang ini). Kemuliaan, bagi para pekerja medis bisa langsung dipetik didepan mata. Bagi profesi dokter, objek perhatiannya profesinya adalah “penderitaan dan kebutuhan dasar” manusia, sejak manusia dilahirkan hingga malaikat maut datang menjemput, dokter sedikit terlibat dalam adegan tersebut. Hampir 24 jam dinasnya, atau lebih tepatnya jam kerja sesungguhnya tidak mengenal waktu. Panggilan pak Dokter tadi sebetulnya bagai penegasan dari masyarakat bahwa mereka masih menghormati profesi ini, dan bukanlah sebuah kenyataan bahwa sang dokter memerankan lakonnya sebagai dokter setiap detiknya. Saya hanya menjadi dokter ketika berhadapan dengan permasalahan yang berkaitan dengan kesehatan dan penyakit. Diluar tema itu, saya sama saja dengan orang awam kebanyakan. Profesi itu sub-ordinat dari kemanusiaan kita, ia hanyalah pakaian yang tidak boleh mereduksi predikat kita sebagai manusia. Profesi-profesi dijadikan untuk mengabdi kepada manusia dan mempertinggi nilai kemanusiaan. Menjadi manusia seharusnya merupakan cita-cita ideal dan kebahagiaan dalam kehidupan ini. Sehingga profesi apapun selayaknya atas Nama Allah didedikasikan untuk kemuliaan hidup dan kemajuan kemanusiaan.Beberapa tema dalam buku ini tentang dunia medis saya angkat sebagai opini dan gagasan yang mungkin sangat layak dikritik dan disempurnakan oleh anda. Khusus tentang uraian fitoterapi disamping pencatatan tersebut didapatkan dari kebiasaan-kebiasaan praktek pengobatan tradisional masyarakat suku dayak basap, saya juga banyak mengutip apa yang sudah ...We have made it easy for you to find a PDF Ebooks without any digging. And by having access to our ebooks online or by storing it on your computer, you have convenient answers with Mengobati Dengan Hati. To get started finding Mengobati Dengan Hati, you are right to find our website which has a comprehensive collection of manuals listed. Our library is the biggest of these that have literally hundreds of thousands of different products represented.
Description: Pada tahun 90-an, dokter-dokter yang telah menyelesaikan studinya, umumnya melanjutkan tugas sebagai dokter PTT (Pegawai Tidak Tetap) di puskesmas-puskesmas, sebagai sebuah tugas pengabdian yang dibebankan oleh pemerintah. Tulisan saya berikut ini hanyalah salah satu catatan pengalaman diantara berbagai pengalaman rekan-rekan sejawat saya lainnya dan diselingi opini sederhana yang saya rekam selama menjalankan tugas PTT di sebuah kawasan sangat terpencil di kecamatan Sandaran, kabupaten Kutai Timur propinsi Kalimantan Timur. Sepenuhnya catatan ini, dituliskan saat berada di lokasi, di sela-sela waktu luang. Saya menuliskannya mengalir saja, tanpa kewajiban mengemasnya seperti suatu bahasan ilmiah dan ketika itu juga tanpa banyak literatur yang bisa saya jadikan rujukan konfirmasi untuk pengayaan materi buku ini. Sehingga buku ini memang bukan buku berkelas ilmiah dan juga sama sekali tidak dimaksudkan sebagai sumber rujukan tentang profil daerah sangat terpencil khususnya bagi sejawat dokter. Karena bagaimanapun setiap tempat di negeri ini punya keunikan tersendiri, baik alam maupun kehidupan masyarakatnya. Negeri kita, negeri archipelago, yang terdiri lebih dari 300 suku dan 17.000 kepulauan yang tentunya hadir dengan persepsi dan adat istiadat yang khas atas problematika penyakit dan masalah kesehatan pada tiap-tiap masyarakatnya.Sebutlah, buku ini sekedar ilustrasi sederhana kondisi lapangan atau lebih tepat lagi sebuah sharing pengalaman kepada siapa saja, terkhusus kepada sejawat profesi dan “adik-adik” mahasiswa Fakultas Kedokteran. Karena sesungguhnya kita punya banyak pengalaman sehari-hari yang istimewa dan menjadi “bernilai lebih” apabila semua itu didokumentasikan. Karena saya percaya setiap orang begitu berharga. Dan bukankah pengalaman adalah guru yang paling baik? Saya bertekad dan juga nekad untuk menuliskan pengalaman-pengalaman sederhana saya ini, karena saya kebetulan berposisi menjadi dokter perintis di sebuah kecamatan baru pelosok sangat terpencil, yang memulai kondisi bekerja dari keadaan yang sangat minim dan pranata sosial yang amat bersahaja. Puskesmas (dalam arti gedung & perangkat yang sebenarnya) di wilayah kerja selama saya bertugas ‘baru akan dan sedang dibangun’, staf pembantu puskesmas yang terdiri dari perawat-bidan-analis dsb juga belumlah ada dan saat itu kemajuan kecamatan adalah hal yang sangat diharapkan sedang dan tengah berjalan, dan… jadilah buku ini secara kebetulan menjadi sepenggal potret dari kisah masa lalu saya di tanah Borneo ini. Namun sebelumnya saya ingin tegaskan ini bukankisah saya, melainkan kisah hidup banyak pasien, kisah tentang warga-warga desa yang bermukim di dusun-dusun sunyi.Isi buku ini juga tidak murni masalah medis, saya menuliskan banyak pengamatan iseng-iseng ini juga dengan memposisikan diri sebagai orang biasa yang kebetulan saja menjadi dokter. Dan isinya juga memang bukan melulu membahas medis. Menurut saya, dokter memang sebuah profesi yang “unik”. Dalam keseharian masyarakat selalu memanggilnya pak Dokter ! Bukan berfokus pada siapanya, tentulah pemanggilan tersebut hanya ungkapan takzim penghormatan, mereka menghormati nilai-nilai dan idealisme yang menjiwai profesi ini. Salah satu keberuntungan dokter adalah pekerjaannya mulia. Ya, setiap profesi itu tentu mulia, namun bagi dokter untuk meraih kemuliaan itu relatif lebih mudah dibandingkan “mungkin” dengan profesi semacam birokrat atau pejabat (seperti sekarang ini). Kemuliaan, bagi para pekerja medis bisa langsung dipetik didepan mata. Bagi profesi dokter, objek perhatiannya profesinya adalah “penderitaan dan kebutuhan dasar” manusia, sejak manusia dilahirkan hingga malaikat maut datang menjemput, dokter sedikit terlibat dalam adegan tersebut. Hampir 24 jam dinasnya, atau lebih tepatnya jam kerja sesungguhnya tidak mengenal waktu. Panggilan pak Dokter tadi sebetulnya bagai penegasan dari masyarakat bahwa mereka masih menghormati profesi ini, dan bukanlah sebuah kenyataan bahwa sang dokter memerankan lakonnya sebagai dokter setiap detiknya. Saya hanya menjadi dokter ketika berhadapan dengan permasalahan yang berkaitan dengan kesehatan dan penyakit. Diluar tema itu, saya sama saja dengan orang awam kebanyakan. Profesi itu sub-ordinat dari kemanusiaan kita, ia hanyalah pakaian yang tidak boleh mereduksi predikat kita sebagai manusia. Profesi-profesi dijadikan untuk mengabdi kepada manusia dan mempertinggi nilai kemanusiaan. Menjadi manusia seharusnya merupakan cita-cita ideal dan kebahagiaan dalam kehidupan ini. Sehingga profesi apapun selayaknya atas Nama Allah didedikasikan untuk kemuliaan hidup dan kemajuan kemanusiaan.Beberapa tema dalam buku ini tentang dunia medis saya angkat sebagai opini dan gagasan yang mungkin sangat layak dikritik dan disempurnakan oleh anda. Khusus tentang uraian fitoterapi disamping pencatatan tersebut didapatkan dari kebiasaan-kebiasaan praktek pengobatan tradisional masyarakat suku dayak basap, saya juga banyak mengutip apa yang sudah ...We have made it easy for you to find a PDF Ebooks without any digging. And by having access to our ebooks online or by storing it on your computer, you have convenient answers with Mengobati Dengan Hati. To get started finding Mengobati Dengan Hati, you are right to find our website which has a comprehensive collection of manuals listed. Our library is the biggest of these that have literally hundreds of thousands of different products represented.